Rabu, 30 April 2014

Mekong to Chao Phraya part 7: The Mighty Angkor

Setelah sekitar delapan jam duduk di bus sambil mendengarkan lagu - lagu Preap Sovath sepanjang perjalanan, pada pukul 22.00 waktu setempat kami tiba di Siem Reap. Saat kami turun dari bus, beberapa tuk-tuk dan motodup langsung mengerubungi kami untuk menawarkan jasanya. Ternyata Thi telah mengontak salah satu temannya di Siem Reap untuk menjemput kami di terminal bus. Saya langsung mendekati seorang pengendara tuk-tuk yang membawa kertas bertuliskan nama saya. Pak kumis, sebut saja begitu, langsung membawa kami ke Evergreen Hotel yang telah kami pesan sebelumnya. Sesampainya di hotel, ternyata terjadi kesalahan yang menyebabkan double book. Pak kumis pun langsung menelepon seseorang kemudian mencarikan kami hotel lain. Setelah beberapa kali mencari akhirnya kami mendapatkan hotel yang dimiliki oleh orang Malaysia, My Hibiscus Hotel & Resort, yang memiliki restoran halal sehingga kami tidak perlu repot-repot mencari makanan di luar.

Kamis, 03 April 2014

Mekong to Chao Phraya part 6: Kerajaan & Republik

Pukul delapan pagi, kami cek out dari hotel setelah sarapan. Tetapi kami masih menitipkan barang bawaan kami di hotel karena kami masih akan bertualang mengunjungi beberapa tempat menarik di Phnom Penh. Thi pun sudah menunggu di depan hotel. Kami pun segera naik ke tuk-tuk dan langsung tancap gas. Tempat pertama yang kami kunjungi yaitu Royal Palace yang kami lewatkan pada hari sebelumnya. Karena kami datang kesana terlalu pagi, pintu masuk pun belum dibuka. Kami menunggu pintu dibuka sambil berfoto di depan istana.

Kamis, 27 Maret 2014

Mekong to Chao Phraya part 5: Mutiara Asia

Phnom Penh, dahulu dikenal sebagai "Pearl of Asia" secara etimologis berarti Bukit Penh. Diambil dari nama kuil yang didirikan pada abad ke-14 oleh seorang nenek pemuka agama Buddha bernama Lady Penh. Kuil yang didirikan diatas bukit setinggi sekitar 27 meter itu sendiri bernama Wat Phnom atau Kuil Bukit. Kota ini terletak di tepi pertemuan antara sungai Mekong, Tonle Sap, dan Bassac. Petualangan saya di ibukota Kerajaan Kamboja ini dimulai sekitar pukul 13.00 waktu setempat ketika saya keluar hotel untuk mencari makan siang. Kebetulan di sebelah hotel terdapat sebuah warung kecil yang menjual makanan halal. Di warung tersebut, saya bertemu dengan General Manager Pacific Hotel tempat saya menginap yang kebetulan seorang Muslim. Anshari Usman, nama GM tersebut, yang merupakan orang Cham yang mayoritas memeluk agama Islam bercerita mengenai keadaan kota Phnom Penh secara umum.

Minggu, 23 Maret 2014

Mekong to Chao Phraya part 3: Dari Bangunan Tua Sampai Pesiar Sungai

Setelah beristirahat sambil menikmati pho di sebuah rumah makan sepulang dari Cu Chi Tunnel Tour, kami pun menuju ke Hahn Cafe untuk konfirmasi tiket bus ke Phnom Penh yang telah kami pesan sebelumnya. Ternyata bus kami ke Phnom Penh berangkat pada pukul 12 malam. Salah satu pegawai di Hahn Cafe, Hang Bui Thi, menawarkan custom tour kepada kami sampai pukul 21.30 waktu setempat sambil menunggu bus ke Phnom Penh. Setelah tawar menawar, disetujuilah harga custom tour sekitar 900.000 Dong dengan syarat Hang ikut menemani kami sebagai guide.

Selasa, 14 Januari 2014

Hat Yai: City of Happiness

Pagi itu, setelah mandi di kantor Hat Yai Inter Top Tours, kami bersiap untuk menjelajahi kota Hat Yai. Arsae, si pemilik kantor pun menawarkan kami custom tour seharian menggunakan tut tut seharga 1300 baht untuk tiga orang. Kami pun setuju dan sudah menentukan berbagai destinasi yang akan kami kunjungi. Sayangnya pengemudi tut tut tidak bisa berbahasa lain selain bahasa Thai. Arsae pun menyuruh anaknya, Azmi, yang baru berusia 10 tahun tetapi sudah pandai berbahasa Melayu dan Thai untuk ikut kami sebagai guide.

Sabtu, 11 Januari 2014

One Weekend in Lombok part 2 (end): Study in Pink

Katanya tidak hanya di Flores saja yang ada pantai pink-nya. Di Lombok pun ada, tepatnya di Desa Sekaroh, Jerowawu, Lombok Timur. Karena penasaran ingin membuktikannya, keesokan paginya setelah cek out dari hotel, kami pun memacu kendaraan kami menuju kesana. Dengan bantuan GPS dan bertanya kepada penduduk setempat, akhirnya kami pun sampai di Pantai Pink. Untuk menuju ke pantai ini diperlukan perjuangan ekstra karena jaraknya yang cukup jauh dari kota Mataram dan jalan akses menuju pantai ini pun sangat buruk.

Minggu, 01 Desember 2013

One Weekend in Lombok part 1: Mainstream

Sekitar pukul 15.00 WITA, Garuda Indonesia yang saya naiki pun tiba di Bandara Internasional Lombok. Saya, bersama seorang teman saya, kemudian memesan taksi untuk menuju ke kota Mataram sesegera setelah kami keluar pintu kedatangan. Kami menuju ke kantor TRAC untuk menyewa mobil agar lebih leluasa mengitari Lombok. Dengan biaya Rp950.000,00, kami mendapatkan mobil Toyota Avanza untuk dua hari penuh. Kami pun segera menuju SPBU terdekat untuk memenuhi tangki bahan bakar.

Kamis, 07 November 2013

Explore Belitong part 2: Negeri Laskar Pelangi dan Kota 1001 Warung Kopi

Belitung Timur, tempat dimana cerita Laskar Pelangi berasal. Kami mengambil rute sebelah utara melewati Kelapa Kampit untuk menuju ke Manggar, Ibukota Belitung Timur. Setelah melewati Kelapa Kampit, kami beristirahat sejenak di sebuah warung di tepi Danau Mempayak. Danau Mempayak sendiri terbentuk karena perusahaan timah yang dulu melakukan aktivitas penambangan di kawasan ini tidak melakukan reklamasi atas hasil perbuatannya. Lama kelamaan bekas galian yang dibiarkan terbuka terisi air dan menjadi sebuah danau. Lokasi danau ini yang terletak di jalan utama yang menghubungkan Tanjungpandan - Manggar menjadikan danau ini banyak disinggahi oleh para wisatawan.

Rabu, 06 November 2013

Explore Belitong part 1: Karang, Kuliner, Kaolin

Hujan rintik-rintik menyelimuti kota Tanjungpandan sore itu ketika pesawat Sriwijaya Air yang saya naiki menyentuh Pulau Belitung. Rio, anak dari pemilik Hotel Martani, langsung menyambut saya ketika saya keluar dari terminal kedatangan Bandara HAS Hananjoeddin. Rio pun kemudian mengantarkan saya menuju Hotel Martani yang telah saya pesan melalui teman saya yang asli orang Belitung. Sebelum sampai ke hotel, Rio mengajak saya menuju Pantai Tanjung Pendam untuk melihat sunset. Sayangnya hari itu sedang berawan sehingga matahari pun tidak bisa terlihat.

Minggu, 08 September 2013

Have Fun at Mifan

Jika mampir ke Sumbar dan ingin menginap di tempat yang agak beda, bolehlah singgah ke Minang Fantasi atau biasa disingkat Mifan. Mifan merupakan taman hiburan yang dilengkapi dengan wahana air, arena outbond, dan cottage. Berlokasi di kota Padang Panjang, di pinggir jalan utama yang menghubungkan Padang dan Bukittinggi. Tempatnya yang diapit oleh tiga gunung yaitu Merapi, Singgalang, dan Candike menjadikan suasana sejuk selalu menyelimuti resort ini. Merupakan tempat retreat yang sangat sesuai karena pemandangan alam yang masih asri dan banyak dijumpai satwa liar seperti monyet dan kijang.