Jumat, 27 Juni 2014

Exploring Aceh part 1: Western Tip of Indonesia

Malam hari sekitar pukul 21.30 waktu setempat saya bersama seorang teman saya, Nino, sampai di Bandara Sultan Iskandar Muda di Aceh. Impresi pertama saya ketika keluar dari bandara yaitu Aceh benar-benar menerapkan syariat Islam karena semua wanita yang saya temui di bandara tersebut memakai jilbab. Karena tidak ada taksi, maka kami menyewa sebuah toyota avanza untuk mengantarkan kami ke hotel anggrek di Banda Aceh yang telah kami pesan sebelumnya. Perjalanan ditempuh sekitar 40 menit dari bandara menuju hotel. Sepanjang perjalanan, supir yang membawa kami bercerita mengenai musibah tsunami yang pernah menimpa Aceh pada 2004 lalu. Agak ngeri memang membayangkan apa yang terjadi pada beberapa tahun yang lalu ketika gempa dan tsunami memporakporandakan daerah ini.

Sesampainya di hotel, kami langsung cek in dan langsung beristirahat karena pagi-pagi sekali kami harus mengejar kapal ke Sabang di Pulau Weh. Nino pun menelepon driver yang akan mengantar kami ke pelabuhan untuk bersiap-siap menjemput kami pagi-pagi sekali. Terdapat dua macam kapal yang melayani rute Banda Aceh - Sabang, yaitu kapal lambat yang berangkat pada pukul 10.30 dan 16.30 WIB serta kapal cepat yang berangkat pada pukul 09.30 dan 16.00 WIB. Keesokan paginya, sekitar pukul 07.00 WIB kami sudah berangkat ke pelabuhan Ulee Lhee untuk mencari tiket kapal cepat. Sayangnya waktu itu bertepatan dengan hari libur sehingga penumpang kapal pun membludak. Kami tidak mendapatkan tiket karena tiket sudah habis diborong oleh para penumpang yang telah mem-booking jauh hari sebelumnya. Kebanyak para penumpang adalah peserta tour. Pak Kamal, driver yang mengantarkan kami ke pelabuhan, kemudian menghubungi temannya yang merupakan awak kapal dari kapal cepat tersebut. Awak kapal tersebut kemudian "menyelundupkan" kami ke kapal melalui bagian belakang kapal yang tidak dijaga. Agak seram juga karena kami harus melompat menuju kapal tanpa ada pengaman. Kami juga tidak memiliki tiket dan hanya membayar kepada awak kapal tersebut seharga tiket kapal. Kapal pun jalan dan sekitar 45 menit kemudian, kami sampai di Pelabuhan Balohan, Sabang. Beruntung tidak ada pemeriksaan tiket selama perjalanan.

Pelabuhan Sabang

Kami langsung mencari penjual tiket untuk kami kembali ke Banda Aceh esok paginya. Tetapi konter penjualan tiket untuk hari berikutnya belum dibuka. Tiba-tiba seorang petugas Dinas Perhubungan mendekati kami, dia menawarkan tiket kapal untuk esok hari. Kami tidak langsung percaya meskipun dia mengenakan seragam petugas. Petugas tersebut kemudian masuk ke konter tiket dan selang beberapa menit dia keluar lagi dengan dua lembar tiket kapal untuk esok pagi. Meskipun masih belum percaya kami kemudian membeli tiket melalui petugas Dishub tersebut, daripada kehabisan tiket lagi, pikir kami. Selanjutnya kami menyewa sepeda motor di dekat pelabuhan dengan harga Rp100.000,00 untuk 24 jam. Kami langsung menuju ke penginapan yang direkomendasikan oleh Pak Kamal kepada kami. Setelah cek in dan meletakkan barang bawaan, kami segera memacu motor kami ke ujung barat pulau Weh yang juga merupakan ujung barat Indonesia. Perjalanan ditempuh sekitar 1,5 jam dari kota Sabang. Di ujung barat pulau Weh terdapat Tugu Nol Kilometer dan pengunjung juga bisa memperoleh sertifikat yang menyatakan bahwa telah mencapai ke ujung barat Indonesia.

Tugu Nol Kilometer

Kilometer Nol Indonesia

Setelah beristirahat dan makan siang di Kilometer Nol Indonesia, kami kembali lagi ke kota Sabang. Di tengah perjalanan, kami mampir sejenak ke sebuah pantai yang sangat indah, Pantai Gapang. Pantai yang terletak di KM 21 Jalan Sabang - Iboih ini memiliki pasir yang putih dan air laut yang berwarna seperti zamrud. Pantai ini juga relatif sepi, sehingga cocok untuk bermalas-malasan.

Pantai Gapang

Tanpa berlama-lama di pantai Gapang, kami segera melanjutkan perjalanan menuju penginapan. Kami sempatkan tidur siang sebentar karena cukup lelah setelah mengendarai sepeda motor selama hampir 3 jam. Sore harinya kami mengeksplorasi kota Sabang menggunakan sepeda motor, kami menuju ke tempat yang biasa digunakan untuk mengadakan Sabang Fair. Tempat tesebut terletak di dekat pantai yang disana juga terdapat Bunker Jepang.

Pemandangan ketika memasuki kota Sabang

Bunker Jepang

Malam harinya, setelah makan malam dengan menu sate gurita, kami nongkrong di sebuah warung kopi sambil menikmati sanger dan bakpia dan bolu Sabang.

Sanger

Bolu dan bakpia Sabang

(bersambung)

1 komentar:

  1. Situs Poker Online yang terpercaya tidak akan pernah siasiakan membernya, maupun itu member besar, member lama maupun member baru, jika agen poker online itu terpercaya akan melayani anda dengan baik dan profesional seperti kami. Dalam segi bonus dan promo,kami juga kami tidak segan segan memberikan dengan bonus tertinggi dan jackpot terbesar, bisa dibandingkan dengan situs judi online dan poker lain nya. Segera Daftar Poker Online Untuk mendapatkan banyak keuntungaan.

    BalasHapus