Selasa, 01 Juli 2014

Exploring Aceh part 2 (end): Remnant of Tsunami

Pagi berikutnya kami kembali lagi ke Banda Aceh. Pak Kamal sudah menunggu kami di Pelabuhan Ulee Lheue dengan mobilnya. Hari ini kami Pak Kamal membawa kami mengunjungi sisa-sisa bencana tsunami yang pernah melanda Aceh. Kami langsung menuju ke Kapal Tsunami Lampulo yang merupakan kapal nelayan yang terdampar di atas atap rumah warga. Kapal ini terbawa arus sejauh sekitar 3 km ke darat dan letak dan bentuknya pun tidak diubah. Sekarang kapal yang menjadi saksi bisu tsunami ini menjadi obyek wisata yang ramai dikunjungi.

Jumat, 27 Juni 2014

Exploring Aceh part 1: Western Tip of Indonesia

Malam hari sekitar pukul 21.30 waktu setempat saya bersama seorang teman saya, Nino, sampai di Bandara Sultan Iskandar Muda di Aceh. Impresi pertama saya ketika keluar dari bandara yaitu Aceh benar-benar menerapkan syariat Islam karena semua wanita yang saya temui di bandara tersebut memakai jilbab. Karena tidak ada taksi, maka kami menyewa sebuah toyota avanza untuk mengantarkan kami ke hotel anggrek di Banda Aceh yang telah kami pesan sebelumnya. Perjalanan ditempuh sekitar 40 menit dari bandara menuju hotel. Sepanjang perjalanan, supir yang membawa kami bercerita mengenai musibah tsunami yang pernah menimpa Aceh pada 2004 lalu. Agak ngeri memang membayangkan apa yang terjadi pada beberapa tahun yang lalu ketika gempa dan tsunami memporakporandakan daerah ini.

Rabu, 18 Juni 2014

Mekong to Chao Phraya part 11: Another Part of Bangkok

Setelah ditinggal teman saya yang lebih dahulu kembali ke Indonesia, saya pun melanjutkan petualangan saya di Bangkok sendirian. Kalau hari sebelumnya saya menginap di Hotel yang agak mewah, hari berikutnya saya menginap di hotel kecil di Khao San Road yang memang terkenal sebagai pusatnya backpacker. Di malam hari, Khao San Road sangat hidup. Penjual pakaian dan makanan sampai tumpah ruah memenuhi ruas jalan. Terdapat juga pijat refleksi yang pengunjungnya sampai memenuhi teras bahkan sampai ada yang refleksi di pinggir jalan. Tetapi keadaan itu sangat berbeda pada waktu pagi. Keramaian itu seakan hilang entah kemana.

Sabtu, 14 Juni 2014

Mekong to Chao Phraya part 10: Palace and Temples

Meskipun Bangkok saat itu sedang dihantui oleh krisis dan demonstrasi massa, tetapi tidak menyurutkan niat kami untuk mengunjungi tempat-tempat menarik disana. Seusai sarapan, kami naik taksi menuju komplek tempat tinggal Raja Thailand yang selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara, Grand Palace. Supir taksi sempat memperingatkan kami di tengah perjalanan. "Beware of mob", katanya. Sesampainya disana, barisan tentara dan kawat berduri sudah menanti. Sepertinya untuk antisipasi kalau-kalau ada demonstrasi massa lagi. Kami kemudian berjalan menuju pintu gerbang masuk ke komplek Grand Palace bersama rombongan turis lainnya.

Jumat, 06 Juni 2014

Mekong to Chao Phraya part 9: Sawasdee kaa

"Mana yang lebih bagus? Angkor atau Borobudur?", tanya seorang warga Amerika Serikat yang duduk di sebelahku di dalam pesawat menuju Bangkok. Dengan mantapnya saya menjawab, "Borobudur of course". "I have to go there someday", jawabnya. Tak terasa satu jam kemudian pesawar Thai AirAsia yang kami naiki telah mendarat di Bandara Internasional Don Mueang, Bangkok. Bandara ini merupakan bandara tertua di Asia yang baru dibuka kembali pada tahun 2012. Setelah beres urusan imigrasi, kami menuju ke konter taksi untuk memesan taksi yang akan mengantarkan kami ke hotel. Hotel yang kami pesan yaitu Hotel Mercure yang terletak dekat dengan pusat perbelanjaan seperti MBK Center, Siam Paragon, dan Siam Discovery.

Minggu, 04 Mei 2014

Mekong to Chao Phraya part 8: Floating Village at Tonle Sap Lake

Pagi buta sebelum subuh, kami sudah bersiap-siap menuju Angkor Wat sekali lagi. Kali ini untuk memburu sunrise di sana yang katanya sangat indah dan terkenal. Jam 4 pagi Pak kumis sudah stand by di depan hotel. Ternyata banyak juga tamu hotel yang berencana melihat matahari terbit pagi itu. Tanpa menunggu lagi, kami pun segera beranjak menuju Angkor. Sesampainya disana, kami segera mencari tempat untuk sholat subuh. Karena tidak ada musholla apalagi masjid, kami pun sholat di depan pintu gerbang Angkor Wat. Setelah sholat kami segera masuk ke Angkor Wat untuk mencari tempat yang cocok menyaksikan matahari terbit. Sayangnya spot yang sesuai sudah dipadati pengunjung, sehingga kami mencari tempat di sela-sela kerumunan pengunjung.

Rabu, 30 April 2014

Mekong to Chao Phraya part 7: The Mighty Angkor

Setelah sekitar delapan jam duduk di bus sambil mendengarkan lagu - lagu Preap Sovath sepanjang perjalanan, pada pukul 22.00 waktu setempat kami tiba di Siem Reap. Saat kami turun dari bus, beberapa tuk-tuk dan motodup langsung mengerubungi kami untuk menawarkan jasanya. Ternyata Thi telah mengontak salah satu temannya di Siem Reap untuk menjemput kami di terminal bus. Saya langsung mendekati seorang pengendara tuk-tuk yang membawa kertas bertuliskan nama saya. Pak kumis, sebut saja begitu, langsung membawa kami ke Evergreen Hotel yang telah kami pesan sebelumnya. Sesampainya di hotel, ternyata terjadi kesalahan yang menyebabkan double book. Pak kumis pun langsung menelepon seseorang kemudian mencarikan kami hotel lain. Setelah beberapa kali mencari akhirnya kami mendapatkan hotel yang dimiliki oleh orang Malaysia, My Hibiscus Hotel & Resort, yang memiliki restoran halal sehingga kami tidak perlu repot-repot mencari makanan di luar.

Kamis, 03 April 2014

Mekong to Chao Phraya part 6: Kerajaan & Republik

Pukul delapan pagi, kami cek out dari hotel setelah sarapan. Tetapi kami masih menitipkan barang bawaan kami di hotel karena kami masih akan bertualang mengunjungi beberapa tempat menarik di Phnom Penh. Thi pun sudah menunggu di depan hotel. Kami pun segera naik ke tuk-tuk dan langsung tancap gas. Tempat pertama yang kami kunjungi yaitu Royal Palace yang kami lewatkan pada hari sebelumnya. Karena kami datang kesana terlalu pagi, pintu masuk pun belum dibuka. Kami menunggu pintu dibuka sambil berfoto di depan istana.

Kamis, 27 Maret 2014

Mekong to Chao Phraya part 5: Mutiara Asia

Phnom Penh, dahulu dikenal sebagai "Pearl of Asia" secara etimologis berarti Bukit Penh. Diambil dari nama kuil yang didirikan pada abad ke-14 oleh seorang nenek pemuka agama Buddha bernama Lady Penh. Kuil yang didirikan diatas bukit setinggi sekitar 27 meter itu sendiri bernama Wat Phnom atau Kuil Bukit. Kota ini terletak di tepi pertemuan antara sungai Mekong, Tonle Sap, dan Bassac. Petualangan saya di ibukota Kerajaan Kamboja ini dimulai sekitar pukul 13.00 waktu setempat ketika saya keluar hotel untuk mencari makan siang. Kebetulan di sebelah hotel terdapat sebuah warung kecil yang menjual makanan halal. Di warung tersebut, saya bertemu dengan General Manager Pacific Hotel tempat saya menginap yang kebetulan seorang Muslim. Anshari Usman, nama GM tersebut, yang merupakan orang Cham yang mayoritas memeluk agama Islam bercerita mengenai keadaan kota Phnom Penh secara umum.

Minggu, 23 Maret 2014

Mekong to Chao Phraya part 3: Dari Bangunan Tua Sampai Pesiar Sungai

Setelah beristirahat sambil menikmati pho di sebuah rumah makan sepulang dari Cu Chi Tunnel Tour, kami pun menuju ke Hahn Cafe untuk konfirmasi tiket bus ke Phnom Penh yang telah kami pesan sebelumnya. Ternyata bus kami ke Phnom Penh berangkat pada pukul 12 malam. Salah satu pegawai di Hahn Cafe, Hang Bui Thi, menawarkan custom tour kepada kami sampai pukul 21.30 waktu setempat sambil menunggu bus ke Phnom Penh. Setelah tawar menawar, disetujuilah harga custom tour sekitar 900.000 Dong dengan syarat Hang ikut menemani kami sebagai guide.

Selasa, 14 Januari 2014

Hat Yai: City of Happiness

Pagi itu, setelah mandi di kantor Hat Yai Inter Top Tours, kami bersiap untuk menjelajahi kota Hat Yai. Arsae, si pemilik kantor pun menawarkan kami custom tour seharian menggunakan tut tut seharga 1300 baht untuk tiga orang. Kami pun setuju dan sudah menentukan berbagai destinasi yang akan kami kunjungi. Sayangnya pengemudi tut tut tidak bisa berbahasa lain selain bahasa Thai. Arsae pun menyuruh anaknya, Azmi, yang baru berusia 10 tahun tetapi sudah pandai berbahasa Melayu dan Thai untuk ikut kami sebagai guide.

Sabtu, 11 Januari 2014

One Weekend in Lombok part 2 (end): Study in Pink

Katanya tidak hanya di Flores saja yang ada pantai pink-nya. Di Lombok pun ada, tepatnya di Desa Sekaroh, Jerowawu, Lombok Timur. Karena penasaran ingin membuktikannya, keesokan paginya setelah cek out dari hotel, kami pun memacu kendaraan kami menuju kesana. Dengan bantuan GPS dan bertanya kepada penduduk setempat, akhirnya kami pun sampai di Pantai Pink. Untuk menuju ke pantai ini diperlukan perjuangan ekstra karena jaraknya yang cukup jauh dari kota Mataram dan jalan akses menuju pantai ini pun sangat buruk.